Mahasiswa Dosen Saling Membutuhkan

Halo guys, Gak kerasa ya sudah siang lagi. Baru saja Matahari datang mengintip melalui jendela yang tertutup kain kelambu. Tapu tidak apa mungkin Matahari juga ingin melihat dari sebelah atas. Saling membutuhkan antara teman di kosan memang sudah bisa dimaklumi, tapi saya sebenarnya tidak ingin seperti itu.

Dapatkan Tips SEO Terbaik Kami!

Daftar untuk mendapatkan trik & teknik SEO untuk kalahkan saingan!.

I agree to have my personal information transfered to GetResponse ( more information )

I will never give away, trade or sell your email address. You can unsubscribe at any time.

Kamar ini tidak pernah sepi, karena si putih masih hidup dan volumenya masih normal jadi bisa medengarkan musik sepuasnya. Apalagi sekarang tidak ada jadwal kuliah dikarenakan dosen yang seharusnya hadir tidak bisa menepati janjinya.

Kalo ngomong soal dosen yang gak hadir kadang suka kesel juga. Tapi gak ke semuanya sih. Maksudnya bukan kesel karena tidak masuknya itu, kalo dosen tidak masuk saya gak masalah, toh nanti juga ada materi kuliah untuk bahan pengetahuan dan bahan ujian. Yang saya maksud jadi kesel adalah ada beberapa dosen yang seenaknya dan semau dia aja. Mau tahu gimana?

Suatu hari dikala matahari belum mencapai tinggi pinggang orang dewasa, saya baru terbangun dari lelapnya surga malam, ya intinya kesiangan gitu. Maklum aja semalamnya abis begadang karena harus menyelesaikan jurnal dan laporan praktikum (karena kalo siang saya kerja). Pas ingat, ternyata ada jadwal kuliah hari ini yang masuknya pagi. Untuk memastikan saya telepon teman di kampus namun tidak ada hasil karena pasti sudah masuk. Akhirnya saya Kirim Pesan Teks dan teman saya membalas pesan yang memberitahukan jika kelas sudah dimulai.

Kesiangannya gak parah amat. Kuliah masuk jam 08:00 AM adn ane bangun tidur dangat pas juga jam segitu tapi masa iya ke kampus langsung. Dipotong mandi cepat dan tanpa sarapan (biasanya juga enggak) langsung ke kampus, Kebetulan waktu dari kontrakan ke kampus hanya 5 menit saja. Sampai di kampus kurang lebih pukul 08:15 AM. Cukup cepat untuk melakukan segalanya dalam waktu 10 menti plus dijalan 5 menit secara kurang lebih nya, walaupun buku dan balpoint ketinggalan karena saya hanya mengambil tas yang berisikan laptop saja.

Saya tahu persis kalo dosen yang sekarang sedang mengajar adalah dosen yang punya aturan kalo masuk gaboleh telat, harus tepat waktu, dan kebijakannya yang menurut saya lucu yaitu jika telat datang mengikuti kuliah selama 10 menit maka tidak boleh masuk kelas.

Begini kawan ku yang sudah mempunyai gelar pendidikan formal tinggi di bidangmu. Saya sendiri ga mau dan malas untuk berurusan dengan orang seperti anda. Karena pasti sudah merasa benar dan sudah jelas akan melihat orang lain dimatanya yaitu tetap salah mau apapun yang diungkapkan atau yang dijadikan alasan.

Pada saat sampai di kampus dan di depan pintu kelas, saya sudah tahu bahwa tidak akan dibiarkan masuk kelas oleh dosen tersebut. Tapi saya mencoba saja apa salahnya kan!. Ternyata benar sekali 100% pada saat saya bika pintu langsung ditanya “Mau kuliah mas?” Jawab saya “Iya **” Namun yang saya dapatka adalah lambaian tangan, lambaian nya terbalik sob bukan lambaian tangan kedepan yang berarti mengajak atau ngerangkul, namun lembaian tangan ke belakang yang adalah isyarat untuk mengusit.

Hmm. yasudah tanpa panjang lebar dan percuma juga kalo berdebat dengan orang seperti tersebut yang merasa dirinya adalah segalanya. Apalagi kalo sudah merasa dirinya benar-benar merasa 100% berada di posisi benar. Wah mending cari aman saja kalo kata tukang judi mah. haha. Akhirnya saya pergi saja ke kantin mending makan lah daripada udah niat bener malah mikirin yang enggak enggak.

Saya masih kurang mengerti bagaimana sistem kerja seorang dosen itu, Apa mungkin karena saya adalah mahasiswa baru saja sehingga seperti ini, Itu pikiran saya pada awalnya. Namun pada saat di kantin, saya bertemu dengan kakak tingkat dan sedikit mengobrol karena kebetulan satu organisasi.

Ditengah obrolan yang ngalor ngidul saya ditanya oleh kakak tingkat “De, si Daniel Mana, Ke kampus gak?”. saya jawab seketika juga karena saya tahu Daniel sedang dimana, karena saya satu kelas dengannya, “Daniel lagi di kelas Kang, Ada kelas”. “eh.. kan ente satu kelas sama danirl, kenapa gak masuk?” Ujar kakak tingkat saya. Saya jawab lagi dengan santai “Telat lebih 10 menit Kang, Gaboleh masuk kelas”. Kakak tingkat nanya lagi, “Hmmm.. siapa dosennya?”. ya saya jawab lebih singkat “** ****”. “Oh, pantesan. Memang dari dulu sampai sekarang di kelas saya juga dosen tersebut begitu cara ngajarnya, harus ada perjanjian yang terlambat maksimal berapa menit gak boleh masuk kelas” Ujar kaka tingkat saya. Saya hanya melongo aja karena kakak tingkat tersebut udah 3 tahun kuliah disini atau sudah semester 6.

Dan coba tebak apa yang paling kerenya lagi?… Jika mereka membatalkan kelas karena ada urusa, baik urusan pribadi atau apapun (ya semua juga urusan pribadi lah kalo menyangkut pemasukan uang ke kantong) bisa dengan mudahnya membatalkan kuliah, atau dengan seenaknya mengubah jam, atau hari kuliah, yaitu jadwal di pindahkan. Kebanyakannya gak kompromi untuk masalah jadwal baru. Tapi alhamdulillah masih ada dosen yang menyesuaikan mahasiswanya jika memindahkan jadwal kuliah.

Saya menjadi semakin heran, karena sekarang saya baru saja masuk kuliah, tepatnya saya sudah di semester dua, namun tetap saja masih tahun pertama menginjakan kaki disini. Ternyata dosen tersebut begitu dari dulu kakak tingkat saya semester satu hingga sekarang semester enam masih jalan tradisinya.

Ya sudah lah biarkan saja. Kan orang Indonesia bangga dengan budaya nya, Hingga budaya seperti tersebut juga tidak bisa dilepaskan. ahahaha. Seharusnya jika sudah sekolah puluhan tahun apalagi kuliah di bidang eksak yang mengandalkan logika, seharusnya bisa mengubah tradisi atau budaya yang menyimpang dan ambil saja yang baiknya.

Mengapa ada hingga sekarang masih ada dosen seperti tersebut. Apakah dosen yang sepenuhnya memegang kendali?, ataukah berubahnya harga diri yang terlalu tinggi menjadikan sosoknya menjadi seorang yang gila hormat?. Saya angkat bagu saja. Dan memang gak bakalan cocok kondisinya jika saya ungkapkan juga.

Saya dididik oleh guru saya dari mulai SD, SMP, & SMA, bersyukur selalu mempunyai guru yang merangkul dan sangat bersahabat, Mereka menganggap saya seorang partner bertukar pendapat dan pengetahuan.

Misalkan saya pada waktu SD belajar ngitung perkalian dan guru saya selalu menegaskan, “Sudah hafal?”, Jawab kita sebagai anak-anak “Belum Pak!”, kemudian guru tersebut menganti metode atau caranya memberi tahu kita semua cepat bisa. Ya pada intinya Saya mendapatkan ilmu Guru saya tersebut, dan Beliau mendapatkan pengalaman dan menghasilkan cara/metode baru untuk mengajar yang lebih baik, dan tentunya dapat gaji juga.

Nah itu dia maksudnya. saya sangat ingin sekali menegaskan pada saat itu, tapi banyak teman dan kakak tingkat melarang, seperti katanya “Biarin aja lah de, yang penting nanti lembar ujian terisi”. saya agak lucu juga tapi ya sudahlah.

Sebenarnya dosen dan mahasiswa itu pada dasarnya saling membantu. bahkan mahasiswa dengan institusi perguruan tinggi pun salaing membantu. Jika di sekenariokan ke manajemen hak dan kewajibah (haha ada gitu ya manajemen hak dan kewajiban 😀 ) tepatnya seperti ini.

  • Mahasiswa mendapatkan ilmu (Kewajiban Dosen = Hak Mahasiswa)
  • Dosen mendapatkan jasa mengajar (Kewajiban Mahasiswa – Hak Dosen)

Ya seperti itu dan jika diamnil kesimpulan, sangat singkat sekali kesimpulannya ada kata Sifar diantara fenomena tersebut yaitu ‘BANTU’. Ya benar kta saling membantu baik dosen-mahasiswa-doesn-perguruan tinggi-orangtua-mahasiswa-dosen Saling Membutuhkan diantara semuanya.

Bahkan dikehidupa kita pun mengamalkan dan memahami apa maknanya ‘BANTU’ atau saling membantu. Kalau di PPKN dulu waktu SD dulu diajarkan hingga Tenggang Rasa. Ya mau sampai ke Tenggang Rasa bagaimana jika menerapkan saling membantu saja tidak bisa.

Ahhh… akhirnya lega juga setelah dituangkan ke dalam tulisan ini, sempat tersimpan selama satu bulan unek-unek ini. nah kalo udah disini kan lumayan, siapa tau dia bisa baca.

Mungkin temen-temen punya dosen yang seperti tersebut juga?. jika ada bisa share dengan saya lebih parah yang mana, Atau anda punya pendapat tentang dosen saya yang keren tersebut. Sok ah jangan ragu untuk nulis di komentar, agar kira bisa dengan mudah untuk mendiskusikannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here